Haruskah Perempuan Berpendidikan Tinggi?

Haruskah Perempuan Berpendidikan Tinggi?

13Jan
Haruskah Perempuan Berpendidikan Tinggi?

Hi ladies! Boys talk kali ini akan membahas pandangan laki-laki mengenai perempuan yang berambisi untuk berpendidikan tinggi. Femme telah melakukan deep interview dengan sobat Femme, Farel Badar Kawakibi (20), yang akan berbagi pendapatnya dengan kita semua. Penasaran? Let’s check this out!

Menurut Farel, perempuan yang berpendidikan tinggi itu anggun dan langka. Farel juga lebih menyukai perempuan yang mempunyai ambisi atau cita-cita daripada hanya mengikuti arus. Berwawasan luas juga menjadi salah satu ciri idaman Farel. Farel berpendapat, perempuan yang berwawasan luas akan lebih nyambung ketika diajak ngobrol dalam topik apa pun. Selain itu, perempuan berwawasan luas juga akan memberikan komentar yang sesuai jika ditanya mengenai pendapatnya terhadap suatu hal.

Kalau gue, suka sama cewek yang punya ambisi berpendidikan tinggi kayak gini, gue dapet power-nya juga dari dia. Gue jadi semakin ingin ngejar dia. Mungkin orientasi mereka sekarang lebih kepada pekerjaan atau pasangan. Padahal pendidikan itu, menurut gue, adalah salah satu hal terpenting untuk mereka. Tapi ingat juga, apabila sudah berkeluarga mereka juga harus bisa membagi waktunya. Soalnya, primary objective mereka ya keluarga,kata Farel.

Ketertarikan Farel terhadap perempuan yang berpendidikan tinggi ini membuka alur pembicaraan menjadi lebih seru. Penasaran, Femme melontarkan beberapa pertanyaan lagi ke Farel.

Pepatah mengatakan “Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”, menurut Farel harus gak sih perempuan yang punya ambisi berpendidikan tinggi melanjutkan pendidikannya sampai harus ke luar negeri? Apalagi dengan budaya orang Indonesia yang selalu bilang “buat apa seorang perempuan punya pendidikan tinggi apalagi harus sampai ke luar negeri kalau ujung-ujungnya nanti bakal di rumah dan masak di dapur?”

“Menurut gue, kalau mampu ya harus. Karena menuntut ilmu itu wajib dan tidak ada batasannya. Kalau gak punya semangat nanti pupus di tengah jalan atau nggak, bisa langsung menikah, karena memang perempuan itu primary objective-nya adalah keluarga. Tapi kalau memang dia punya ambisi yaa why not? just do it! Kalau dari masalah budaya yang seperti itu, sebaiknya diabaikan aja lah kalau kita ingin maju. Meskipun sebenarnya, terkadang gue juga takut sama perempuan yang berpendidikan tinggi, takut keluarganya nanti gak terurus,cerita Farel panjang lebar.

Lalu, bagaimana dengan seorang perempuan dengan pendidikan seadanya, Farel? Dengan kata lain, dia telah mengikuti pendidikan formal dan hanya sekadar lulus lalu menikah dan menjadi seorang ibu dan istri?

“Hmm.. kalau itu sih menurut pandangan gue ya memang perempuan harus ngurus keluarga. Tapi  gue saranin jangan sampai hanya sekadar seadanya apalagi dengan alasan tidak ada biaya, karena sekarang ini banyak banget beasiswa-beasiswa yang memberikan bantuan dana pendidikan secara gratis. Kalau pendidikan kalian sampai seadanya saja, justru nantinya kalian bisa dibodohi oleh para laki-laki. Kalau pun nantinya gue dapet cewek yang kayak gitu, gue pasti akan semangatin dia buat kuliah dan gue juga akan bantuin dia dengan cara apapun.”

Wow, salut deh sama Farel! Memasuki penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) seperti ini, pendidikan tentu menjadi salah satu poin terpenting yang harus dipenuhi, ladies. And always remember this good one, “There is no elevator to success, you have to take the stairs. Keep on studying, ladies!”


img-1452708451.jpg

Narasumber: Farel Badar Kawakibi (@farelbdkk) –Staff Public Relation of Capital Market Student Society (CMSS)

Jurnalis: Merilla Steffi (@MerillaSteffi24) | Editor: Asti (@AstiPrassya)

Header: icytales.com

Bagikan Post

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

  • Kode Verifikasi